BAB
I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Manusia
adalah makluk biopsikososial yang unik dan menerapkan sistem terbuka serta
saling berinteraksi. Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan
hidupnya. Keseimbangan yang dipertahankan oleh setiap individu untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungannya, keadaan tersebut disebut sehat.
Sedangkan orang dikatakan sakit apabila gagal dalam mempertahankan keseimbangan
dirinya dan lingkungan.
Psikososial
adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu, baik yang bersifat psikologik
maupun sosial yang mempunyai pengaruh timbal balik. Masalah kejiwaan dan
kemasyarakatan yang mempunyai pengaruh timbal balik. Sebagai akibat terjadinya
perubahan sosial dan atau gejolak sosial dalam masyarakat yang dapat menimbulan
gangguan jiwa.
2.
Rumusan Masalah
1. Apa
pengertian pengkajian?
2. Sebutkan
komponen pengkajian psikososial?
3. Bagaimana
sikap dan pendekatan perawat dalam pengkajian psikososial
4. Bagaimana
cara melakukan wawancara untuk pengkajian psikososial?
5. Bagaimana
petunjuk melakukan pengkajian psikososial?
3.
Tujuan Penulisan
1. Memahami
pengertian pengkajian psikososial
2. Mengerti
dan memahami komponen pengkajian psikososial
3. Mengerti
dan memahami sikap dan pendekatan perawat dalam melakukan pengkajian
psikososial
4. Mampu
memahami cara melakukan wawancara untuk pengkajian psikososial
5. Mengerti
dan memahami petunjuk melakukan pengkajian psikososial
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Pengkajian
Pengkajian merupakan
langkah pertama proses keperawatan dan meliputi pengumpulan, organisasi, dan
analisi informai (American Nures Association, 1994). Dalam keperawatan
kesehatan jiwa, proses ini sering diebut sebagai pengkajian psikososial, yang
mencakup pemeriksaan status mental. Tujuan pengkajian pikososial ialah membangun
gambaran status emosional klien saat ini, kapaita mental, dan fungi perilakunya. Pengkajian ini berfungsi
sebagai dasar dalam mengembangkan rencana perawatan untuk memenuhi kebutuhan
klien.
2. Komponen
Pengkajian Psikososial
1.
Riwayat Klien
Pengkajian
latar belakang mencakup riwayat klien, usia dan tahap perkembangan, keyakinan
budaya dan spiritual, serta keyakinan tentang sehat dan sakit. Riwayat klien
juga riwayat keluarga klien. Misalnya apakah klien mengalami kesulitan yang
sama di masa lalu? Apakah klien pernah masuk di rumah sakit, dan jika ya
bagaimana pengalaman tersebut?
Usia dan
tahap perkembangan klien merupakan faktor yang penting dalam pengkajian
psikososial. Misalnya pada usia 17 tahun klien mungkin berjuang mencari
identitas diri dan berupaya mandiri dari orang tuanya.
Kesejahteraan
spiritual adalah keberadaan individu yang mengalami penguatan kehidupan dalam
hubungan dengan kekuasaan yang lebih tinggi sesuai nilai individu, komunitas
dan lingkungan yang terpelihara (Carpenito, 1998, hal. 382) yang ditandai
dengan karakteristik: rasa kesadaran, sumber-sumber yang sakral, kedamaian
dalam diri individu, komitmen padanilai-nilai tertinggi terhadap cinta, makna,
harapan dan kebenaran (Carson, 1998). Distress spiritual adalah keadaan dimana
individu/kelompok mengalami atau beresiko gangguan sistem keyakinan atau nilai
yang memberi kekuatan, harapan dan arti kehidupanseseorang.(carpenito, 1998,
hal. 384) dengan karakteristik adanya gangguan dalam suatu keyakinan,
mempertahankan makna kehidupan, kematian, penderitaan, keputusasaan, tak
melakukan ritual keagamaan, ragu tentang keyakinan dan kekosongan spiritual.
2.
Penampilan umum dan perilaku
motorik
Perawat
mengkaji penampilan klien secara keseluruhan, termasuk pakaian, higiene dan
berhias. Apakah klien berpakaian sesuai dengan usianya? Apakah klien tampak
tidak rapi? Apakah klien terlihat sesuai dengan usia yang dikatakannya?
Pengkajian tentang penampilan umum dan perilaku motorik meliputi :
a.
Automatism : perilaku
berulang dan tanpa yujuan yang sering menunjukkan ansietas, misalnya mengetukan
jari,memutir ikatan rambut, atau mengentakkan kaki
b.
Retardasi psikomotor :
gerakan yang secara keseluruhan lambat
c.
Flexibilitas cerea :
mempertahankan postur atau posisi sepanjang waktu walaupun posisi atau postur
tersebut canggung atau tidak nyaman.
Perawat
mengkaji cara bicara klien untuk mengetahui kualitas, kuantitas, dan setiap
abnormalitas yang ada.
3.
Mood dan Afek
Mood (alam
perasaan) mengacu pada status emosional klien yang meresap dan meneta. Afek ialah
ekspresi status emosional klien yang terlihat.
Istilah umum yang digunakan dalam mengkaji mood dan afek meliputi:
1.
Afek tumpul: memperlihatkan
sedikit ekspresi; ekspresi wajah lambat dalam berespon.
2.
Afek datar : tidak ada
ekspresi wajah
3.
Mood yang labil : perubahan
mood yang cepat dan tidak dapat diperkirakan dari depresi dan menangis.
4.
Isi dan Proses Pikir
Proses
mikir mengacu pada cara klien berpikir. Proses pikir disimpulkan dari cara
bicara dan pola bicara klien. Isi pikir adalah ucapan klien yang sebenarnya.
Perawat mengkaji apkah kata-kata klien masuk akal, apakah ide-ide yang
disampaikan saling terkait dan mengalir secara logis dari satu ide ke ide
berikutnya.
5.
Sensorium dan Proses Intelektual
Orientasi
mengacu pada pengenalan klien terhadap orang, tempat, dan waktu. Mengetahui
siapa dan dimana dirinya serta hari, tanggal, dan tahun yang benar. Tidak adanya
informasi yang benar tentang orang, tempat, dan waktu disebut diorientasi atau
terorientasi satu kali (hanya orang) atau terorientasi dua kali (orang dan
tempat).
Memori
baik saat ini maupun masa lalu dikaji secara langsung dengan mengajukan
pertanyaan yang jawabannya dapat dipastikan perawat. Misalnya, siapa nama
presiden saat ini? Siapa nama presiden sebelumnya? Di wilayah mana anda
tinggal?Apa ibukota negara ini?
6.
Penilaian dan Daya Tilik
Penilaian mengacu pada kemampuan untuk menginterprestasikan lingkungan
dan situasi diri dengan benar dan mengadaptasi perilaku dan keputusan diri
secara tepat (Chow dan Cummings, 2000). Masalah penilaian dapat terlihat ketika
klien menjelaskan perilaku dan aktivitasnya saat ini yang menggambarkan tidak
ada perhatian yang cukup terhadap diri sendiri dan orang lain.
Daya tilik merupakan kemampuan untuk memahmi sifatnsituasi diri yang
sebenarnya dan menerima beberapa tanggung jawab pribadiuntuk situasi tersebut.
Daya tilik seringkali dapat dilihat dari kemampuanklien menjelaskan kekuatan
dan kelemahan perilakumereka secara realistis. Contoh daya tilik yang buruk
adalah klien yang menyalahkan orang lain untuk perilakunya sendiri.
7. Konsep
Diri
Konsep diri adalah semua jenis pikiran, keyakinan
dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang dirinya dan
mempengaruhi hubungan dengan orang lain. Konsep diri ada melalui pembelajaran
(dipelajari) setelah lahir sebagai hasil pengalaman unik dalam dirinya, bersama orang terdekat dengan
dunia nyata (realitas). Konsep diri terdiri atas :
1) Citra
tubuh yaitu kumpulan sikap individu yang di sadari terhadap tubuhnya termasuk
persepsi masa lalu/sekarang, perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan
potensi dirinya.
2) Ideal
diri yaitu persepsi individu tentang bagaimana seharunya ia berlakukan
berdasarkan standar, aspirasi, tujuan atau nilai personal tertentu.
3) Harga
diri yaitu penilaian tentang nilai personal yang di peroleh dengan menganalisa
seberapa baik prilaku seseorang sesuai dengan ideal dirinya. Harga diri tinggi
merupakan perasaan yang berakar dalam menerima dirinya tanpa syarat, meskipun
telah melakukan kesalahan, kekalahan dan kegagalan, ia tetap merasa sebagai
orang yang penting dan berharga.
4) Penampilan
peran yaitu serangkaian perilaku yang di harapakan oleh lingkungan sosial
berhubungan dengan fungsi individu di berbagai kelompok sosial.
5) Identitas
diri yaitu pegorganisasian prinsip dari kepribadian yang bertanggung jawab
tehadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi dan keunikan individu.
Dalam
mengkaji konsep diri klien dapat di lakukan langkah sebgai berikut :
a.
Citra tubuh (gambaran diri, bofy image),
bagaimana persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian tubuhnya yang paling di
sukai dan bagian ynag paling tidak di sukai.
b. Identitas
diri (self identitiy), bagaimana pesepsi tentang status dan posisi klien
sebelum di rawat, kepuasan klien terhadap status/posisi tersebut(sekolah,
pekerjaan, kelompok, keluarga, lingkungan masyarakat sekitarnya), kepuasan
klien sebagai laki laki atau perempuan(gender).
c. Peran
(self role), bagaimana harapan klien terhadap tubuhnya, posisi, status,
tugas/peran yang diembannya dalam keluarga, kelompok, masyrakat, dan bagiaman
kemampuan klien dalam melaksanakan tugas/peran tersebut.
d. ideal diri (self ideal), bagaimana harapan
klien terhadap tubuhya, posisi, status, tugas/peran dan harapan klien terhadap
lingkungan (keluarga, sekolah, tempat, kerja, lingkungan masyrakat).
e.
harga diri (self esteem), bagaimana
persepsi klien terhadap dirinya dalam
hubungannya dengan orang lain sesuai dengan kondisi tersebut di atas (nomor 2a,
b, c, dan d) dan bagaimana penilaian/penghargaan orang lain terhadap diri dan
lingkungan klien.
Respon konsep diri sepanjang rentang
sehat-sakit berkisar dari status aktualisasi diri (paling adaptif) sampai pada
kerancuan identitas/depersonalisasi (maladaptif) yang digambarkan sebagai
berikut
Respon adaptif Respon maladaptif
Aktualisasi
diri
|
Konsep
diri positif
|
Harga diri
rendah
|
Kerancuan
identitas
|
Despersonalisasi
|
Kerancuan identitasadalah suatu
kegagalan individu untuk mengintegrasikan berbagai identifikasi masa
kanak-kanak kedalam kepribadian psikososial dewasa yang harmonis. Sedangkan
despersonalisasi adalah suatu perasaan yang tidak realistis dan keasingan
dirinya dari lingkungan.
Karakteristik
Konsep Diri Rendah
1. Menghindari sentuhan atau melihat bagian tubuh tertentu
2. Tidak mau berkaca
3. Menghindari diskusi tentang topik dirinya
4. Menonlak rehabilitasi
5. Melakukan usaha sendiri dengan tidak tepat
6. Mengingkari perubahan pada dirinya
7. Peningkatan ketergantungan pada orang lain
8. Tanda dari keresahan seperti marah, keputusaan dan menangis
9. Menolak berpartisipasi dalam perawatan dirinya
10. Tingkah laku yang merusak seperti penggunaan obat-obatan dan alkohol
11. Menghindari kontak sosial
12. Kurang bertanggung jawab
Faktor Resiko Gangguan Konsep Diri
1. Menghindari sentuhan atau melihat bagian tubuh tertentu
2. Tidak mau berkaca
3. Menghindari diskusi tentang topik dirinya
4. Menonlak rehabilitasi
5. Melakukan usaha sendiri dengan tidak tepat
6. Mengingkari perubahan pada dirinya
7. Peningkatan ketergantungan pada orang lain
8. Tanda dari keresahan seperti marah, keputusaan dan menangis
9. Menolak berpartisipasi dalam perawatan dirinya
10. Tingkah laku yang merusak seperti penggunaan obat-obatan dan alkohol
11. Menghindari kontak sosial
12. Kurang bertanggung jawab
Faktor Resiko Gangguan Konsep Diri
1.
Gangguan Identitas Diri
a.
Perubahan perkembangan
b. Trauma
c. Jenis kelamin yang tidak sesuai
d. Budaya yang tidak sesuai
b. Trauma
c. Jenis kelamin yang tidak sesuai
d. Budaya yang tidak sesuai
2.
Gangguan Citra tubuh
a. Hilangnya bagian tubuh
b. Perubahan perkembangn
c. Kecacatan
a. Hilangnya bagian tubuh
b. Perubahan perkembangn
c. Kecacatan
3.
Gangguan Harga Diri
a. Hubungan interpersonal yang tidak harmonis
b. Kegagalan perkembangan
c. Kegagalan mencapai tujuan hidup
d. Kegagalan dalam mengikuti aturan moral
a. Hubungan interpersonal yang tidak harmonis
b. Kegagalan perkembangan
c. Kegagalan mencapai tujuan hidup
d. Kegagalan dalam mengikuti aturan moral
4.
Gangguan Peran
a. Kehilangan peran
b. Peran ganda
c. Konflik peran
d. Ketidakmampuan menampilkan peran
a. Kehilangan peran
b. Peran ganda
c. Konflik peran
d. Ketidakmampuan menampilkan peran
8.
Peran dan Hubungan
Kemampuan
untuk memenuhi peran atau tidak adanya peran yang diinginkan sering kali
menjadi pusat perhatian dalam fungsi psikososial klien. Perubahan peran juga
dapat menjadi bagian kesulitan klien. Dalam setiap interaksi
dengan klien, perawat harus menyadari luasnya dunia kehidupan klien, memahami
pentingnya kekuatan social dan budaya bagi klien, mengenal keunikan aspek dan
menghargai perbedaan klien. Berbagai faktor social budaya klien meliputi usia,suku bangsa,
gender,pendidikan, penghasilan dan system keyakinan.
Hubungan sosial
dapat dikaji sebagai berikut :
a. Siapa
orang yang berarti dalam kehidupan klien, tempat mengadu, bicara, minta
bantuan atau dukungan baik secara
material maupun non material.
b. Peran
serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat, kelompok sosial apa saja yang diikuti
di lingkungannya dan sejauh mana ia terlibat. Hambatan apa saja dalam
berhubungan dengan orang lain/kelompok tersebut.
Guna mencapai kepuasan dalam kehidupan individu
membina hu bungan interpersonal (hubungan sosial) yang positif. Hubungan sosial
yang sehat terjadi jika individu saling merasakan kedekatan sementara identitas
pribadi masih di pertahankan. Kapasitas hubungan sosial berkembang sepanjang
siklus kehidupan yang dapatdi gambarkan dalam Rentang Hubungan Sosial sebagai
berikut :
Respon adaptif
·
Solitut
·
Otonomi
·
Kebersamaan
·
Saling ketergantungan
·
Kesepian
·
Menarik diri
·
Ketergantungan
Respon
mladaptif
·
Manipulasi
·
Impulsive
·
Narsisme
Manipulasi adalah orang
lain diperlakukan sebagai objek, hubungan terpusat pada masalah pengendalian,
individu, berorientasi pada diri sendiri/tujuan bukan pada orang lain.
Impulsive adalah tidak mampu merencakan/belajar dari penglaman, penilaian yang
buruk dan tidak dapat diandalkan. Narsisme adalah harga diri rapuh, terus
menerus, berusaha mendapatkan penghargaan/pujian, bersikap egosentris, pencemburu dan marah
bila orang lain tidak mendukungnya.
9.
Pertimbangan Fisiologis dan
Perawatan Diri.
Ketika
melakukan pengkajian psikososial, perawat harus menyertakan fungsi fisiologis.
Walaupun pengkajian kesehatan fisik yang lengkap mungkin tidak diindikasikan,
beberapa area fungsi seringkali diperburuk oleh masalah emosional. Pola makan
dan tidur dapat sangat dipengaruhi oleh masalah emosional: dibawah pengaruh
stress, individu mungkin makan secara berlebihan atau tidak makan sama sekali
dan tidur sampai 20 jam dalam sehari atau tidak bisa tidur lebih dari dua atau
tiga jam pada malam hari. Oleh karena itu, perawat harus mengkaji pola
kebiasaan makan dan tidur klien kemudian menentukan bagaimana pola tersebut
berubah (Chow dan Cummings, 2000).
Beberapa faktor penting
dapat mempengaruhi pengkajian psikososial yaitu kemampuan klien untuk berpatisipai dan memberi
umpan balik, status kesehatan fisik, kesejahteraan emosional dan perepi tentang
situasi dan kemampuan beerkomunikai, serta sikap dan pendekatan perawat.
Pengkajian psikososial
dapat sangat dipengaruhi oleh sikap dan pendekatan perawat. Perawat harus
melakukan pengkajian secara profesional, tidak menghakimi, dan berorientasi
pada fakta, tidak membiarkan peraaan priadinya mempengaruhi wawancara.
3. Sikap
dan Pendekatan Perawat
Pengkajian psikososial
dapatdipengaruhi oleh ikap dan pendekatan perawat. Apabila klien meraa
pertanyaan perawat singkat dan kasar, atau klien merasa dideak atau ditekan
untuk menyeleaikan pengkajian, ia mungkin hanya memberi informasi yang
superfisial atau tidak membahas beberapa area masalah secara keeluruhan. Klien
mungkin juga tidak memberi informasi.
4. Cara
Melakukan Wawancara
Pengkajian psikososial harus
dilakukan di lingkungan yang nyaman, tersendiri, dan aman baik bagi klien
maupun perawat. Lingkungan yang cukup tenang dan tidak banyak distraksi
memungkinkan klien membrei perhatiannya secara penuh dalam wawancara. Dengan melakukan
wawancara ditempat seperti ruang konferensi, meyakinkan klien bahwa tidak
seorang pun akan menguping apa yang di diskusikan. Akan tetapi, perawat tidak
boleh memilih loksai yang terisolisasi untuk wawancara, terutama jika perawat
tidak mengenal klien atau jika ada perilaku yang mengancam. Keamanan klien dan
perawat harus dipastikan walaupun hal itu berart ada orang lain selama
pengkajian.
Perawat selama pengkajian dapat
menggunakan pertanyaan terbuka. Hal ini memungkinkan klien mulai menjawab saat
ia merasa nyaman. Contoh pertanyaan terbuka :
1. Apa
yang membuat anda datang kesini hari ini?
2.
Jelaskan kepada saya apa yang telah
terjadi kepada anda?
Apabila klien
tidak dapat mengorganisasi pikirannya atau mengalami kesulitan saat menjawab.
Perawat perlu menggunakan lebih banyak pertanyaan langsung untuk memperoleh
informasi. Pertanyaan harus jelas, sederhana, dan terfokus pada satu perilaku
atau gejala tertentu. Pertanyaan tersebut tidak boleh membuat klien mengingat
dalam satu waktu. Berikut contoh pertanyaan terfokus :
1. Berapa
lama anda tidur semalam?
2. Pernahkah
anda berpikir untuk bunuh diri?
3. Seberapa
nyenyak tidur anda?
Perawat harus
menggunakan nada suara dan bahasa yang tidak menghakimi, terutama ketika
menanyakan informasi yang sensitif, misalnya penggunaan obat atau alkohol,
perilaku seksual, penganiayaan atau kekerasan, dan praktik mengasuh anak.
Penggunaan bahasa yang tidak menghakimi dan nada suara tanpa emosi mencegah
klien menerima isyarat verbal untuk bersikap bertahan atau tidak mengatakan
kebenaran.
5.
Petunjuk yang Bermanfaat
Ketika Melakukan Pengkajian Psikososial
1.
Pengkajian berupaya
memperoleh semua informasi yang dibutuhkan untuk membantu klien.penilaian bukan
merupakan bagian dari proses pengkajian
2.
Bersikap terbuka, jelas, dan
langsung ketika bertanya tentang topik pribadi atau topik yang tidak nyaman
akan membantu mengurangi ansietas atau keraguan klien dalam mendiskusikan topik
tersebut.
3.
Mengkaji keyakinan diri dan
memperoleh kesadaran diri merupakan pengalaman yang menghasilkan perkembangan bagi
perawat.
4.
Apabila keyakinan perawat
sangat berbeda dari keyakinan klien, perawatharus mengungkapkan perasaannya
kepada rekan sejawat atau mendiskusikan perbedaan tersebut dengan mereka.
Keyakina perawat sendiri sedapat mungkin tidak mengganggu hubungan
perawat-klien dan proses pengkajian.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Manusia adalah
makluk biopsikososial yang unik dan menerapkan sistem terbuka serta saling
berinteraksi. Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan
hidupnya. Keseimbangan yang dipertahankan oleh setiap individu untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungannya, keadaan tersebut disebut sehat.
Sedangkan orang dikatakan sakit apabila gagal dalam mempertahankan keseimbangan
dirinya dan lingkungan. Pengkajian psikososial ini berfungsi sebagai dasar
dalam mengembangkan rencana perawatan untuk memenuhi kebutuhan klien dalam
mempertahankan keseimbangannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Azizah, Lilik Ma’rifatul.. 2011. Keperawatan Jiwa
Aplikasi Praktik Klinik.Yogyakarta: Graha Ilmu
Videbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawan Jiwa.
Jakarta: EGC
http://fayldestu.blogspot.com/2010/11/konsep-dasar-pengkajian-psikososial.html