PENGGUNAAN SPSS UNTUK REGRESI LINEAR BERGANDA
Misalkan kita akan menggunakan RLB untuk melihat pengaruh variabel x1 dan x2 terhadap y. Berikut adalah data yang digunakan.
|
y
|
x1
|
x2
|
|
64
|
4
|
2
|
|
73
|
4
|
4
|
|
61
|
4
|
2
|
|
76
|
4
|
4
|
|
72
|
6
|
2
|
|
80
|
6
|
4
|
|
71
|
6
|
2
|
|
83
|
6
|
4
|
|
83
|
8
|
2
|
|
89
|
8
|
4
|
|
86
|
8
|
2
|
|
93
|
8
|
4
|
|
88
|
10
|
2
|
|
95
|
10
|
4
|
|
94
|
10
|
2
|
|
100
|
10
|
4
|
Langkah-langkahnya adalah:
1. Input data ke SPSS
2.Selanjutnya beri nama setiap variabel:
3. Kembali ke tab data view
Klik Analyze → Regression →Linier
4. Masukkan y di kolom independent, serta x1 dan x2 di kolom dependent
5. Pada tab Statistics, centang option seperti di gambar berikut, kemudian klik Continue
6.
Pada tab Plots, masukkan variabel seperti di gambar berikut, plot ini
akan digunakan untuk melakukan uji terhadap asumsi homoskedastisitas,
kemudian klik Continue 
7.
Pada tab Save, pada bagian Residuals, centang Unstandarized. Nilai ini
nantinya akan digunakan untuk pengujian asumsi normalitas, kemudian
Continue
8.
Setelah kembali ke halaman dialog awal, klik OK, dan di halaman output
akan muncul hasilnya. Kita akan membahas satu per satu tabel yang muncul
di bagian output.
Tabel ini menyajikan statistik deskriptif yang berupa rata-rata dan standar deviasi setiap variabel.
Interpretasi:
R-squared
dan adjusted R-square: item ini merupakan indicator seberapa besar
variabel-variabel bebas mampu menjelaskan perubahan yang terjadi pada
variabel tak bebas. Jika RLS, maka yang dibaca adalah R-squared, jika
RLB. Maka yang dibaca adalah Adjusted R-Squared. Kenapa begitu? Karena
nilai R-square terpengaruh oleh banyaknya jumlah variabel bebas. Semakin
besar jumlah variabel bebas, maka nilai R-square akan semakin besar
sehingga untuk mendapatkan nilai sebenarnya, maka dibuatlah suatu faktor
koreksi. Adanya faktor koreksi akan meminimalisir pengaruh penambahan
variabel sehingga dapat dilihat angka murninya.
Tabel
ini dilakukan untuk menguji model secara simultan atau bersama-sama.
Uji yang dilakukan disebut simultan test (F-Test) yang bertujuan untuk
melihat apakah secara bersama-sama variabel bebas berpengaruh terhadap
variabel terikat atau tidak. Penulisan pengujian secara statistik adalah
sebagai berikut:
Hipotesis:
H0: β0=β1=β2 =β3 =β4 = 0
H1 : minimal ada satu βi yang tidak nol
Tingkat signifikansi: a= 5%
Statistik uji: F-Test
Wilayah
kritik: Tolak H0 bila nilai signifikansi lebih besar dari a atau nilai
F-uji> F(0.05,2,13) (dapat dipergunakan salah satunya)
Statistik observasi: (lihat output)
Nilai
signifikansi= 0.000, maka tolak H0. Atau kita dapat membandingkan nilai
F pada tabel hasil dengan nilai F pada tabel F standar.
Keputusan: Tolak H0
Kesimpulan:
Dengan tingkat kepercayaan 95 persen dapat disimpulkan bahwa secara
bersama-sama variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap variabel
tidak bebas.
Selanjutnya,
tabel ini merupakan tabel analisis paling penting. Dengan tabel ini
kita bisa melihat model yang dihasilkan dari variabel-variabel kita dan
bagaimana pengaruhnya terhadap variabel tak bebas.
Sebelum
membaca pengaruh setiap variabel, kita pastikan dulu apakah variabel
tersebut berpengaruh signifikan terhadap y atau tidak. Untuk melihat hal
itu, bisa kita lihat dari nilai t dan signifikansi setiap variabel.
Untuk nilai t, kita bisa mengatakan signifikan apabila nilai |t|>t
tabel standar. Jika menggunakan nilai signifikansi, maka kita bisa
mengatakan variabel tersebut signifikan bila nilai sig < a (dalam
kasus ini nilai a=5%). Pada tabel dapat kita lihat bahwa kedua variabel
bebas berpengaruh signifikan terhadap variabel tak bebas. Pembacaannya
adalah sebagai berikut:
- Setiap
kenaikan 1 satuan variabel x1 maka akan menaikkan nilai variabel y
sebesar 4,425 satuan dengan asumsi variabel lain bernilai tetap
- Setiap
kenaikan 1 satuan variabel x2 maka akan menaikkan nilai variabel y
sebesar 4,375 satuan dengan asumsi variabel lain bernilai tetap
Selanjutnya,
setelah pembacaan model, maka kita akan melakukan uji asumsi klasik
untuk memastikan bahwa model yang kita miliki bisa digunakan untuk
mengestimasi.
a. Normalitas
Kali ini kita akan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Langkah pengujian di SPSS adalah sebagai berikut:
1.
Pada tahap sebelumnya, kita sudah menyimpan nilai residual. Nilai ini
yang akan kita pakai untuk melakukan uji kolmogorov smirnov. Klik
Analyze → Nonparametric Tests→1-Sample K-S
2. Masukkan Unstandarized Residual ke Test Variable List, kemudian klik OK
3. Kemudian akan keluar hasil sebagai berikut:
Error
dikatakan berdistribusi normal apabila nilai Asymp. Sig. (2-tailed)
bernilai lebih besar dari nilai a (berkebalikan dengan uji F dan uji T).
Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa error data berdistribusi normal
sehingga asumsi normalitas terpenuhi.
b. Homoskedastisitas
c. Non Multikolinieritas
Pengujian untuk asumsi non multikolinieritas dapat dilakukan dengan melihat nilai VIF. Pada output ini nilai VIF ada di tabel coefficients.
Standar
nilai VIF agar dikategorikan bebas dari multikolinieritas cukup
beragam. Namun 2 nilai standar yang sering dipakai sebagai batasan
adalah 5 atau 10. Dapat dilihat bahwa VIF pada kasus ini adalah 1.000
untuk kedua variabel sehingga standar mana pun yang dipakai, model telah
memenuhi asumsi non multikolinieritas.
d. Non Autokorelasi
Kasus
ini menggunakan data cross section, sehingga pengujian autokorelasi
tidak dilakukan. Namun, apabila seandainya data ini merupakan data time
series, maka pengujian autokorelasi diperlukan. Indikator autokorelasi
dapat dilihat pada nilai Durbin Watson yang ada pada tabel Model
Summary.
PENGGUNAAN SPSS UNTUK REGRESI LINEAR SEDERHANA
Analisis
regresi digunakan untuk memprediksi pengaruh variabel bebas terhadap
variabel terikat. Analisis regresi juga dapat dilakukan untuk mengetahui
kelinieritas variabel terikat dengan varibel bebasnya, selain itu juga
dapat menunjukkan ada atau tidaknya data yang outlier atau data yang
ekstrim.Analisis regresi linear sederhana terdiri dari satu variabel dependen dan satu variabel independen.
Misalnya dalam suatu kegiatan penelitian ingin mengetahui apakah variabel X (nilai bahasa arab) berpengaruh terhadap variabel Y (nilai tafsir). Data penelitian adalah sebagai berikut :
NILAI BAHASA ARAB DAN NILAI TAFSIR SISWA SMPN W KELAS 2.
|
NO
|
NAMA
|
NILAI BHS ARAB
|
NILAI TAFSIR
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10
11.
12.
13.
14.
15
|
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
N
O
|
80
65
75
85
60
65
60
75
70
55
80
50
65
85
60
|
80
70
70
80
65
60
60
70
70
55
85
55
70
80
65
|
Proses analisis regresi dengan program SPSS (SPSS 11,5) adalah sebagai berikut :
- Entri data
Mengentri data di atas ke dalam program SPSS (SPSS 11,5), caranya dengan memasukkan data ke dalam program SPSS 11,5. Setelah entri data selesai, tampilannya adalah sebagai berikut :

-
Analisis regresi dengan program SPSS (SPSS 11,5)Analisis dimulai dengan melakukan pengaturan analisis. Klik Analyze kemudian klik Regression, lalu klik Linear. Seperti tampilan di bawah ini

Setelah itu, akan keluar tampilan berikut :Selanjutnya lakukan pengaturan analisis, yakni :
isilah kotak menu Dependen dengan variabel terikat, yaitu variabel tafsir dan kotak menu independen dengan variabel bebas, yaitu variabel bahasa arab. Sehingga muncul tampilan berikut :

Selanjutnya klik kotak menu Statistics. pada kotak menu Regression Coefficients pilih (klik) kotak estimasi dan confidence intervals. Pada kotak menu yang lain klik Descriptives dan model fit. Sehingga muncul tampilan berikut :

Kemudian klik Continue.
Kotak
menu Plots, berfungsi untuk menampilkan grafik pada analisis regresi.
Misalnya pada analisis ini kita ingin menampilkan grafik, maka klik
kotak menu Plots,. Kemudian blok DEPENDEN pada kotak
menu sebelah kiri, masukkan ke kotak menu sebelah huruf Y dengan cara
meng-klik tanda panahnya. Dengan cara yang sama blok ZRESID pada kotak menu sebelah kiri, masukkan ke kotak menu sebelah huruf X. kemudian klik Histogram dan Normal probanility plot yang terletak pada kotak menu Standardized Residual plots. Selanjutnya klik Continue. Tampilannya adalah sebagai berikut :

Klik kotak menu Options
- Use probability of F menunjukkan nilai probabilitas,sebuah variabel dapat masuk atau tidak dalm persamaan. Nilai entry adalah
0,05 artinya jika nilai probabilitas suatu variabel kurang dari 0,05
maka variabel tersebut akan masuk dalam persamaan. Nilai removal 0,10
artinya jika nilai probabilitas variabel lebih dari 0,10 maka variabel
tersebut akan dikeluarkan dari persamaan.
-
Klik inclide constant in equation, yakni untuk menampilkan konstanta persamaan garis regresi. tampilannya adalah sebagai berikut:

Selanjutnya klik Continue. Untuk melakukan analisis kliklah OK. Beberapa saat kemudian akan keluar outputnya, sebagai berikut :







Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual

Scatterplot

Berdasarkan tabel Coefficients, diketahui bahwa besarnya nilai t test = 6,530 sedangkan besarnya signifikansi = 0,000 lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian H0 ditolak yang berarti ada pengaruh variabel bahasa arab terhadap nilai tafsir. Dan dari tabel Coefficients di atas, kolom B pada Constant (a) adalah 16,234 sedangkan nilai bahasa arab (b) adalah 0,776. Sehingga persamaan regresinya adalah :
Y = a + bX
Y = 16,234 + 0,776X.
Untuk intepretasi selanjutnya dapat dilihat/dikaji dari output di atas.
Paired T Test
Paired T Test dilakukan terhadap dua sample yang berpasangan (paired) sample yang berpasangan diartikan sebagai sebuah sample dengan subjek yang sama namun mengalami dua perlakuan atau pengukuran yang berbeda.Syarat Uji T Paired adalah perbedaan dua kelompok data berdistribusi normal. Maka harus dilakukan terlebih dahulu dengan uji normalitas pada perbedaan kedua kelompok tersebut.
Kita Mulai Saja:
Cara melakukan uji T Paired di SPSS (Uji Beda Berpasangan Kuantitatif).
Buat Variabel seperti di atas!
Pindah ke Data View
Klik pada menu, Analyze, Compare Means, Paired Sample T Test
Tampil jendela:
Masukkan ke dua variabe:
Klik Continue:
Klik OK
Akan Muncul Jendela Output
Baca Output:
Correlation: Nilai Korelasi antara 2 variabel tersebut: Hasil 0,991 artinya hubungan kuat dan positif.
Sig.: tingkat signifikansi hubungan: Hasil 0,000 artinya signifikan pada level 0,01.
Df: degree of freedom (derajat kebebasan) : Untuk uji T Paired selalu N- 1. Di mana N adalah jumlah sampel.
T = nilai t hitung: hasil 1,000: Harus dibandingkan dengan t tabel pada DF 19. Apabila t hitung > t tabel: signifikan.
Sig. (2-tailed): Nilai probabilitas/p value uji T Paired: Hasil = 0,330.
Artinya: Tidak ada perbedaan antara sebelum dan sesudah perlakuan.
Sebab: Nilai p value > 0,05 (95 % kepercayaan).
UJI ANOVA
Uji
ini digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan rata-rata
untuk lebih dari dua kelompok sampel yang tidak berhubungan. Jika ada
perbedaan, rata-rata manakah yang lebih tinggi. Data yang digunakan
biasanya berskala interval atau rasio.
Contoh kasus:
Menggunakan contoh kasus pada uji independent sample t test
ditambah satu kelompok data yaitu kelas C. Seorang mahasiswa dalam
penelitiannya ingin mengetahui apakah ada perbedaan nilai ujian antara
kelas A, kelas B, dan kelas C pada fakultas Psikologi suatu universitas.
Penelitian dengan menggunakan sampel sebanyak 20 responden yang diambil
dari kelas A, kelas B. Dalam uji ini jumlah kelompok responden yang
diambil tidak harus sama, misalnya kelas A sebanyak 7 orang, kelas B
sebanyak 7 orang, dan kelas C sebanyak 6. Data-data yang didapat sebagai
berikut:
Tabel 39. Tabulasi Data (Data Fikti)
|
No
|
Nilai Ujian
|
Kelas
|
|
1
|
32
|
Kelas A
|
|
2
|
35
|
Kelas A
|
|
3
|
41
|
Kelas A
|
|
4
|
39
|
Kelas A
|
|
5
|
45
|
Kelas A
|
|
6
|
43
|
Kelas A
|
|
7
|
42
|
Kelas A
|
|
8
|
35
|
Kelas B
|
|
9
|
36
|
Kelas B
|
|
10
|
30
|
Kelas B
|
|
11
|
28
|
Kelas B
|
|
12
|
26
|
Kelas B
|
|
13
|
27
|
Kelas B
|
|
14
|
32
|
Kelas B
|
|
15
|
38
|
Kelas C
|
|
16
|
45
|
Kelas C
|
|
17
|
42
|
Kelas C
|
|
18
|
42
|
Kelas C
|
|
19
|
40
|
Kelas C
|
|
20
|
38
|
Kelas C
|
Langkah-langkah uji dengan program SPSS
- Masuk program SPSS
- Klik variable view pada SPSS data editor
- Pada kolom Name ketik nilaiujn, dan kolom Name pada baris kedua ketik kelas.
- Pada kolom Decimals, ubah nilai menjadi 0 untuk semua variabel.
- Pada kolom Label, untuk kolom pada baris pertama ketik Nilai Ujian, untuk kolom pada baris kedua ketik Kelas.
- Pada kolom Values, untuk kolom pada baris pertama biarkan kosong (None). Untuk kolom pada baris kedua klik pada kotak kecil, pada value ketik 1, pada Value Label ketik kelas A, lalu klik Add. Langkah selanjutnya pada Value ketik 2, pada Value Label ketik kelas B, lalu klik Add. Selanjutnya pada Value ketik 3, pada Value Label ketik kelas C, lalu klik Add. Kemudian klik OK.
- Untuk kolom-kolom lainnya boleh dihiraukan (isian default)
- Buka data view pada SPSS data editor, maka didapat kolom variabel nilaiujn dan kelas.
- Ketikkan data sesuai dengan variabelnya (pada variabel kelas ketik dengan angka 1, 2 dan 3 (1 menunjukkan kelas A, 2 menunjukkan kelas B, dan 3 menunjukkan kelas C)
- Klik Analyze - Compare Means - One Way ANOVA
- Klik variabel Nilai Ujian dan masukkan ke kotak Dependent List, kemudian klik variabel Kelas dan masukkan ke kotak Factor, kemudian klik Options, klik Descriptive dan Homogeneity of variance, lalu klik Continue.
- Klik OK, maka hasil output yang didapat adalah sebagai berikut:
Keterangan:
Tabel Descriptives di atas telah dirubah kedalam bentuk baris (double
klik pada output Descriptives, kemudian pada menu bar klik pivot,
kemudian klik Transpose Rows and Columns)
Sebelum dilakukan uji ANOVA maka dilakukan uji kesamaan varian (homogenitas) dengan Levene Test,
uji ini digunakan untuk mengetahui apakah varian ketiga kelompok kelas
sama. Data yang memenuhi syarat adalah jika varian sama atau subjek
berasal dari kelompok yang homogen.
Langkah-langkah uji homogenitas sebagai berikut:
1. Menentukan Hipotesis
Ho : Ketiga varian adalah sama (varian kelompok kelas A, B dan C sama)
Ha : Ketiga varian adalah berbeda (varian kelompok kelas A, B dan C sama)
2. Kriteria Pengujian (berdasar probabilitas / signifikansi)
Ho diterima jika P value > 0,05
Ho ditolak jika P value < 0,05
3. Membandingkan probabilitas
Nilai P value (0,395 > 0,05) maka Ho diterima. (lihat output pada test of homogeneity of variance)
4. Kesimpulan
Oleh
karena nilai probabilitas (signifikansi) adalah 0,395 lebih besar dari
0,05 maka Ho diterima, jadi dapat disimpulkan bahwa ketiga varian sama
(varian kelompok kelas A, B dan C sama). Angka
Levene Statistic menunjukkan semakin kecil nilainya maka semakin besar
homogenitasnya. df1 = jumlah kelompok data-1 atau 3-1 = 2, sedangkan df2
= jumlah data – jumlah kelompok data atau 20-3 = 17.
Langkah-langkah uji ANOVA sebagai berikut:
1. Menentukan Hipotesis
Ho : Tidak ada perbedaan antara rata-rata nilai ujian kelas A, kelas B dan kelas C
Ha : Ada perbedaan antara rata-rata nilai ujian kelas A, kelas B dan kelas C
2. Menentukan tingkat signifikansi
Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan tingkat signifikansi a = 5%.
Tingkat
signifikansi dalam hal ini berarti kita mengambil risiko salah dalam
mengambil keputusan untuk menolak hipotesis yang benar
sebanyak-banyaknya 5% (signifikansi 5% atau 0,05 adalah ukuran standar
yang sering digunakan dalam penelitian)
3. Menentukan F hitung
Dari tabel di atas didapat nilai F hitung adalah 14,029
4. Menentukan F tabel
Dengan menggunakan tingkat keyakinan 95%, a = 5%, df 1 (jumlah variabel–1) = 2, dan df 2 (n-3) atau 20-3 =
17, hasil diperoleh untuk F tabel sebesar 3,592 (Lihat pada lampiran)
atau dapat dicari di Ms Excel dengan cara pada cell kosong ketik
=finv(0.05,2,17) lalu enter.
5. Kriteria pengujian
- Ho diterima bila F hitung £ F tabel
- Ho ditolak bila F hitung > F tabel
6. Membandingkan F hitung dengan F tabel.
Nilai F hitung > F tabel (14,029 > 3,592), maka Ho ditolak.
7. Kesimpulan
Karena
F hitung > F tabel (14,029 > 3,592), maka Ho ditolak, jadi dapat
disimpulkan bahwa ada perbedaan antara rata-rata nilai ujian kelas A,
kelas B dan kelas C. Pada tabel Descriptives terlihat rata-rata (mean)
untuk kelas A adalah 39,57, untuk kelas B adalah 30,57 dan kelas C
adalah 40,83, artinya bahwa rata-rata nilai ujian kelas C paling tinggi,
kemudian kelas A dan kelas B.









